Minggu, 15 Januari 2017

Penyuluhan Penggunaan Helm SNI di SMK

Tulisan kali ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul Mendesain Penyuluhan Keselamatan Lalu Lintas Untuk Siswa SMK, yang mana pada tulisan tersebut menjelaskan beberapa tahapan dalam mendesain kegiatan penyuluhan keselamatan, mulai dari merumuskan keadaan sampai dengan merencanakan kegiatan yang akan dilaksanakan. Nah, untuk tulisan kali ini merupakan ulasan tentang pelaksanaan dari kegiatan penyuluhan yang telah direncanakan sebelumnya.

Pada hari Jumat, tanggal 11 November 2016, tim penyuluhan dari Taruna MKTJ mendatangi kampus SMK Muhammadiyah Kramat yang berada di Jalan Garuda, Desa Kemantran, Kabupaten Tegal pada saat kegiatan ekstrakulikuler Hizbul Wathan akan dilaksanakan. Maksud kedatangan tersebut adalah untuk memberikan penyuluhan kepada para siswa yang hadir pada kegiatan tersebut tentang peraturan penggunaan helm SNI bagi para pengguna sepeda motor. Kegiatan penyuluhan tersebut merupakan kedatangan yang kedua kalinya setelah sebelumnya pada kedatangan yang pertama melakukan survei pendahuluan dalam rangka mengetahui kondisi di sekitar dan di dalam lingkungan sekolah, khususnya perilaku para siswa SMK Muhammadiyah dalam menggunakan sepeda motor. Hasil dari survei tersebut menunjukkan bahwa para siswa masih kurang kesadaran dalam menggunakan helm SNI pada saat menghendaki sepeda motor.
Sebelum melaksanakan kegiatan, tim penyuluh telah mempersiapkan peralatan dan perlengkapan yang akan dibutuhkan dalam kegiatan penyuluhan tersebut. Peralatan yang digunakan antara lain: laptop dan LCD proyektor. Sedangkan perlengkapan yang dibawa adalah hadiah-hadiah berupa alat-alat tulis yang akan diberikan kepada para siswa sebagai media untuk menarik perhatian para siswa dalam mengikuti kegiatan penyuluhan.

Tabel di bawah ini merupakan skenario yang telah direncanakan sebelumnya.
Waktu
Kegiatan
Keterangan
14:00 - 14:15
Apel pembukaan Hisbul Wathan
Apel pembukaan HW yang wajib dilakukan untuk mengawali kegiatan .
14:15 – 14:30
Pre-test dan perkenalan di dalam kelas
Sebagai pembuka, penyuluh  memperkenalkan diri kepada para siswa SMK Muhammadiyah Kramat sambil membagikan kuesioner pre-test
14:30 – 15:00
Pemberian materi
Memberikan materi tentang penggunaan helm SNI menggunakan slide powerpoint
15:00 – 15:15
Tanya Jawab
Memberikan kesempatan kepada siswa-siswi untuk bertanya perihal materi yang diberikan
15:15 – 15:30
Istirahat

15:30 – 15:45
Selingan games
Memberikan games tebak gambar berupa rambu lalu lintas yang biasa ditemui di jalan sebagai materi tambahan bagi para siswa
15:45 – 15:50
Post-test dan penutupan materi
Melakukan pembagian kuesioner Post-test kemudian kegiatan penyampaian materi ditutup dengan membaca doa
15:50 – 16:00
Apel Penutup
Apel Penutup untuk mengakhiri kegiatan HW

Berdasarkan skenario yang telah direncanakan, penyuluhan (pemberian materi di dalam kelas) dilaksanakan mulai pukul 14.15 WIB, namun pengurus kegiatan Hizbul Wathan memiliki kebijakan lain sehingga pemberian materi baru dapat dilaksanakan pada pukul 15.05. Dengan adanya perubahan tersebut, tim penyuluh segera melakukan penyesuaian skenario kegiatan, sehingga jadilah skenarionya menjadi seperti tabel di bawah ini.
Waktu
Kegiatan
14:00 - 14:40
Apel pembukaan Hizbul Wathan dan kegiatan lapangan
14:40 – 15:05
Sholat Ashar
15:05 – 15:20
Persiapan, perkenalan dan pre-test
15:20 – 15:50
Pemberian materi
15:50 – 16:00
Tanya Jawab
16:00 – 16:20
Selingan games
16:20 – 16:30
Post-test dan penutupan materi
16:30 – 16:45
Apel Penutup

Berikut ini merupakan penjelasan mengenai pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan:

Apel Pembukaan

Untuk mengawali kegiatan, dilakukan apel pembukaan yang diikuti oleh seluruh kelas X sebagai siswa yang wajib mengikuti kegiatan Hizbul Wathan serta 2 orang Pembina dan 10 siswa kelas XI sebagai Dewan Ambalan yang membantu di dalam membimbing dan mengawasi peserta HW. Dalam apel tersebut, seorang pembina menjadi pengambil apel, dalam pengarahannya pembina memberi penjelasan mengenai kegiatan taruna yang akan dilaksanakan kepada peserta HW.
Berdasarkan rencana, apel pembukaan hanya dilakukan selama 15 menit, namun dari pembina menghendaki para siswa untuk melakukan kegiatan di lapangan terlebih dahulu sampai dengan pukul 14.40, kemudian dilanjutkan dengan sholat Ashar sampai dengan pukul 15.05. Setelah selesai sholat Ashar, pembina membagi para siswa yang hadir menjadi 3 kelompok, kemudian setiap kelompok diarahkan untuk memasuki kelas yang telah disiapkan untuk menerima materi penyuluhan. Tiga kelompok tersebut terdiri dari dua kelompok siswa dan satu kelompok siswi berdasarkan arahan dari pembina HW. Setiap kelompok di dalam kelas, diberi materi oleh 1 kelompok yang terdiri dari 5 orang taruna.

Persiapan, Perkenalan dan Pre-Test

Awal memasuki kelas dibutuhkan waktu untuk mempersiapkan peralatan dan media penyuluhan. Persiapan dilakukan oleh dua orang, sedangkan lainnya melakukan perkenalan dan menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan yang ada di dalam kelas. Selain taruna, seluruh peserta di dalam ruangan juga dipersilakan untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing.

Di sela-sela waktu perkenalan, dibagikan kuesioner pre-test dibagikan kepada beberapa siswa yang dijadikan sebagai responden secara acak. Saat membagikan kuesioner taruna juga menjelaskan bagaimana pengisian kuesioner tersebut. Siswa sangat antusias dan serius di dalam mengisi kuesioner yang diberikan. Skenario berjalan lancar selama pre-test dan perkenalan dari para taruna.


Pemberian Materi

Sesuai dengan tujuan dari kegiatan penyuluhan yang telah ditentukan, yaitu meningkatkan kesadaran para siswa tentang penggunaan helm SNI bagi pengendara sepeda motor. Pemberian materi menggunakan media slide powerpoint kemudian di pertengahan diberikan beberapa video.
 
Ruang 1

Ruang 2

Ruang 3

Beberapa materi yang disampaikan adalah dasar hukum penggunaan helm SNI, urgensi penggunaan helm, desain standar helm, dan yang terakhir adalah materi mengenai risiko bahaya tidak menggunakan helm. Berikut ini adalah gambar slide presentasi yang digunakan dalam pemberian materi penggunaan helm SNI.






Dalam pemberian materi mengenai risiko tidak menggunakan helm, dua video ditayangkan kepada para siswa. Video pertama adalah tentang korban kecelakaan yang tidak mengiakan helm, sedangkan video kedua adalah tentang korban kecelakaan yang menggunakan helm non-SNI.


Tanya Jawab

Sesi tanya jawab ditujukan untuk memberikan waktu kepada para siswa untuk menanyakan hal-hal terkait dengan penggunaan helm. Dalam kegiatan ini, terlihat ekspresi keingintahuan para siswa, namun enggan untuk mengungkapkan di depan teman-teman mereka. Dari tiga kelas yang ada, hanya satu orang siswa yang mengajukan pertanyaan. Siswa tersebut bertanya tentang alat keselamatan apa saja yang ada pada kendaraan selain helm. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, moderator memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada para siswa yang hadir untuk menjawab pertanyaan dari teman mereka sendiri. Hal ini dilakukan untuk menciptakan suasana yang interaktif, namun tidak ada respon dari siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Partisipasi yang minim dari para siswa dalam mengajukan pertanyaan merupakan hal yang harus diketahui penyebabnya, apakah karena mereka sudah paham dengan materi yang diberikan, atau justru mereka tidak paham sama sekali. Hal tersebut akan dapat dijawab setelah melakukan evaluasi.

Selingan Games

Games atau permainan merupakan salah satu cara agar siswa tidak merasa jenuh saat mengikuti kegiatan penyuluhan sekaligus sebagai sarana untuk mencairkan suasana (ice breaking). Games  yang taruna berikan merupakan games yang dapat menghibur sekaligus melihat pemahaman para siswa mengenai materi yang telah disampaikan.

Games yang pertama adalah games pakai helm. Permainan ini merupakan salah satu sarana untuk memberikan penghargaan kepada para siswa yang telah menggunakan helm SNI pada saat berangkat ke sekolah. Pertama, para siswa yang menggunakan helm diminta untuk tunjuk tangan untuk kemudian dipilih untuk mengikuti games. Pada kegiatan tersebut ditemukan hal yang sangat menarik, dari tiap kelas hanya 4 sampai 5 orang saja yang menggunakan helm SNI. Dengan adanya temuan tersebut, akhirnya para siswa yang menggunakan helm diminta untuk mengambil helm masing-masing ke dalam kelas. Selanjutnya, para siswa tersebut diminta untuk melakukan demonstrasi penggunaan helm SNI yang baik dan benar. Setelah demonstrasi penggunaan helm selesai, para siswa tersebut diberikan hadiah sebagai bentuk penghargaan atas tindak disiplin yang mereka lakukan. Di sela-sela pemberian hadiah juga diberikan arahan kepada para siswa yang belum menggunakan helm untuk mengikuti tindakan yang dilakukan oleh teman-teman mereka yang telah menggunakan helm.
Games kedua yang diberikan kepada para siswa adalah Games tebak gambar rambu. Permainan ini selain sebagai sarana ice breaking juga sebagai sarana pemberian materi tambahan kepada para siswa tentang rambu-rambu lalu lintas. Pada permainan ini, ditunjukkan kepada  para siswa dua gambar rambu yang memiliki karakteristik yang sama, kemudian diminta salah satu dari siswa yang hadir untuk menjelaskan arti dan perbedaan kedua rambu tersebut.





Materi-materi yang diberikan pada permainan tebak gambar dirasa tepat diberikan, karena dari 4 pasang rambu yang ada, hanya satu pasang rambu yang dapat dijawab dengan benar. Oleh karena itu, pada permainan ini sekaligus dijelaskan mengenai nama, arti dan perbedaan rambu-rambu yang ditampilkan peda para siswa.
Pada akhirnya, hadiah yang telah disiapkan masih tersisa karena dari empat pertanyaan , hanya satu yang bisa terjawab. Untuk mengatasi hal tersebut, diberikan permainan tambahan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada para siswa. Siswa yang mampu menjawab dengan benar akan diberi hadiah. Pertanyaan yang diberikan merupakan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat mengulas kembali materi yang telah disampaikan sebelumnya. Jadi, langkah tersebut juga berguna untuk mengetahui tingkat keberhasilan penyampaian materi.

Post-test dan Penutupan Materi

Pada akhir kegiatan, kuesioner yang sama diberikan kembali kepada siswa sebagai sarana post-test. Kemudian, dilakukan penutupan kegiatan di dalam kelas dan mengucapkan terima kasih atas segala partisipasi dan kerja sama dari seluruh siswa.

Apel Penutup

Apel penutup dilakukan di lapangan yang diikuti oleh seluruh peserta HW. Di dalam apel penutup tersebut taruna sekaligus ijin berpamitan dan diakhiri dengan foto bersama.



Jumat, 13 Januari 2017

BELOK KIRI LANGSUNG, HATI-HATI!!!

Pada saat sedang mengendarai kendaraan, Anda menjumpai persimpangan yang diatur dengan traffic light, saat itu Anda akan berbelok ke kiri dan lampu menyala merah, sementara itu, di sekitar lokasi tidak ditemukan rambu yang menyebutkan “Belok Kiri Jalan Terus”. Sebagai warga negara yang baik, apa yang akan Anda lakukan? Apakah langsung belok kiri, atau berhenti? Mana yang benar?

Aturan baku yang tertuang di dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pada pasal 112 ayat (3) adalah berbunyi demikian:

“Pada persimpangan Jalan yang dilengkapi Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, Pengemudi Kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh Rambu Lalu Lintas atau Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas.”

Sangat jelas kalimat yang disebutkan pada salah satu pasal dalam undang-undang tersebut. Jadi, apabila Anda menjumpai persimpangan yang diatur menggunakan traffic light (Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas), maka sudah sewajibnya bagi kita untuk berhenti apabila akan berbelok kiri pada saat lampu menyala merah.

Adakah faedah yang bisa didapatkan dari aturan tersebut? Jawabannya, ada. Aturan tersebut sangat bermanfaat bagi keselamatan pejalan kaki, khususnya yang akan menyeberang jalan di sekitar persimpangan. Sebagai contoh (lihat gambar), ketika penyeberang akan berjalan dari titik A ke titik B, ia cenderung hanya melihat kendaraan yang bergerak dari sebelah kanan dan kirinya, sedangkan kendaraan yang bergerak dari kaki simpang yang ada di belakangnya tidak diperhatikan. Sementara itu, pengendara dari kaki simpang tersebut akan berbelok kiri (ke arah titik A, tempat asal penyeberang). Pada kondisi tersebut, apabila pengendara tidak berkonsentrasi dan melaju cukup kencang, maka berpotensi menabrak penyeberang jalan dari titik A.





Dengan demikian, walaupun Anda menemukan persimpangan dengan pengaturan belok kiri jalan terus, Anda tetap harus berhati-hati dari kemungkinan adanya penyeberang jalan yang berada di titik yang menjadi lajur lalu lintas Anda. Intinya, Anda diizinkan untuk langsung berbelok ke kiri di persimpangan apabila terdapat rambu atau lampu lalu lintas yang menerangkan hal tersebut.

Semoga bermanfaat.


"Jadilah pengguna jalan yang selalu membiasakan yang benar, bukan yang membenarkan kebiasaan!"

Sabtu, 19 November 2016

Mendesain Penyuluhan Keselamatan Lalu Lintas Untuk Siswa SMK


Telah dijelaskan pada kiriman sebelumnya mengenai empat tahapan dalam penyusunan program penyuluhan. Pada kiriman kali ini akan dibahas bagaimana menerapkan empat tahapan tersebut dalam mendesain penyuluhan untuk siswa sekolah menengah kejuruan. Sekolah yang menjadi studi kasus dalam rencana kegiatan ini adalah SMK Muhammadiyah Kramat.

Tahap Pertama : Perumusan Keadaan
Perumusan keadaan diawali dengan melakukan pengamatan secara langsung ke lokasi studi untuk mengetahui pola perilaku para siswa SMK Muhammadiyah Kramat terhadap peraturan lalu lintas yang berlaku. Hal ini bertujuan untuk mengukur tingkat kesadaran para siswa terhadap peraturan lalu lintas dilihat dari aspek pola perilakunya.

Sasaran kegiatan pengamatan ini adalah pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh para siswa SMK Muhammadiyah Kramat. Hasil pengamatan ini adalah data kuantitatif yang menunjukkan jumlah dan persentase pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh para siswa di lokasi pengamatan.

Untuk mencapai hasil yang relevan, pengamatan dapat dilakukan pada jam masuk sekolah atau jam pulang sekolah dan pada saat jam kegiatan belajar mengajar. Pengamatan pada jam masuk/keluar sekolah dapat dilakukan di pintu masuk sekolah dan di depan area sekolah. Sedangkan pengamatan pada jam kegiatan belajar mengajar dapat dilakukan di tempat parkir kendaraan para siswa untuk mengamati secara lebih rinci pelanggaran terkait dengan peraturan teknis kendaraan yang digunakan para siswa.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ada 5 (lima) jenis pelanggaran yang dilakukan oleh para siswa SMK Muhammadiyah Kramat, antara lain: tidak menggunakan helm, tidak menyalakan lampu sein saat berbelok, tidak menyalakan lampu utama, kendaraan tidak dilengkapi spion, dan tidak menggunakan helm SNI. Jumlah dan persentase pelanggaran yang dilakukan secara rinci dijelaskan pada grafik di bawah ini.


Tahap Kedua : Penetapan Tujuan
Tahap yang kedua dalam mendesain penyuluhan keselamatan jalan untuk siswa SMK Muhammadiyah Kramat adalah menetapkan tujuan penyuluhan yang akan dilakukan. Untuk menetapkan tujuan perlu diketahui profil dari sasaran penyuluhan. Profil yang dimaksud dalam hal ini, antara lain: lokasi dan waktu penyuluhan, budaya yang ada di lingkungan sekolah, dan tingkat kebutuhan materi yang akan diberikan.

a.         Lokasi dan Waktu
Lokasi penyuluhan keselamatan jalan ditentukan untuk dilakukan di lingkungan SMK Muhammadiyah Kramat, yang berada di Jalan Garuda, Desa Kemantran, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Penyuluhan dilaksanakan di dalam lingkungan sekolah agar para siswa lebih rileks dan tidak perlu menyesuaikan diri apabila menggunakan tempat lain di luar lingkungan sekolah.

Waktu pelaksanaan ditentukan agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar baik mata pelajaran normatif, adaptif, maupun produktif. Dengan kata lain, waktu penyuluhan adalah di luar jam pelajaran, yaitu dengan mengambil jam ekstrakulikuler yang diikuti para siswa. Di SMK Muhammadiyah terdapat salah satu ekstrakulikuler yang mewajibkan semua siswa untuk mengikutinya, yaitu Hizbul Wathan (HW). Kegiatan ini merupakan kegiatan kepanduan yang serupa dengan Gerakan Pramuka. Jam untuk kegiatan ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyuluhan keselamatan lalu lintas.

b.        Budaya
Para siswa di SMK Muhammadiyah sebagian besar berasal dari wilayah Kabupaten Tegal. Sebagian besar siswa SMK kurang peduli terhadap peraturan, hal ini terlihat dari kegiatan rutin yang seharusnya wajib dilaksanakan justru banyak yang tidak hadir, seperti pada kegiatan ekstrakulikuler HW. Dari 250 siswa yang ada, hanya sekitar 50 siswa yang hadir mengikuti kegiatan tersebut. Siswa yang hadir tersebut dapat dikatakan bahwa para siswa memiliki pola pikir yang lebih baik terhadap peraturan daripada para siswa yang tidak hadir. Para siswa akan lebih mudah menerima materi daripada para siswa yang lainnya.

c.         Tingkat Kebutuhan
Dari hasil survei pendahuluan yang telah dilakukan, yaitu survei pelanggaran lalu lintas, para siswa SMK Muhammadiyah Kramat harus diberikan perhatian khusus terutama dari tingkat kesadaran terhadap penggunaan kelengkapan berkendara. Sebagian besar siswa dari SMK Muhammadiyah Kramat kurang memperhatikan keselamatan berkendara, seperti tidak menggunakan helm, helm tidak SNI dan tidak menggunakan fungsi kendaraan dengan sebagaimana mestinya seperti tidak menyalakan lampu utama dan lampu sein pada saat membelok. Namun, dari beberapa pelanggaran yang dilakukan, pelanggaran yang paling dominan adalah pelajaran tidak mengenakan helm, yaitu sebanyak 36%. Untuk anak seusia SMK, peraturan lalu lintas bukanlah hal yang asing bagi para siswa, tetapi kesadaran para siswa untuk mematuhi peraturan masih termasuk rendah, khususnya untuk penggunaan helm saat berkendara.

Dengan demikian, dapat ditentukan tujuan kegiatan penyuluhan yang akan dilakukan, yaitu meningkatkan kesadaran para siswa SMK Muhammadiyah Kramat tentang pentingnya penggunaan helm saat berkendara.

Tahap Ketiga : Penetapan Masalah
Tahap yang ketiga adalah penetapan masalah. Permasalahan-permasalahan yang terkait dengan efektivitas kegiatan penyuluhan harus diinventarisasi secara komprehensif sehingga kegiatan penyuluhan dapat direncanakan dan dilaksanakan secara efektif.
Permasalahan yang terkait dengan kegiatan penyuluhan yang akan dilakukan antara lain:
a)        Materi apa yang harus diberikan?
b)        Bagaimana model penyuluhan yang akan dilakukan?
c)        Media apa yang harus digunakan?
d)       Bagaimana cara mengetahui efektivitas kegiatan penyuluhan yang dilakukan?
e)        Bagaimana skenario kegiatan penyuluhan yang akan dilakukan?

Tahap Keempat : Penetapan Rencana Kegiatan
Tahap yang keempat adalah menetapkan rencana kegiatan penyuluhan. Rencana kegiatan ini meliputi hal-hal yang menjadi permasalahan dalam pelaksanaan penyuluhan.

a.         Materi Penyuluhan
Materi yang akan diberikan kegiatan ini adalah didasarkan pada hasil survei pelanggaran yang telah dilakukan, yang mana hasil survei tersebut menunjukkan bahwa pelanggaran lalu lintas yang paling dominan adalah tidak menggunakan helm pada saat berkendara. Adapun substansi dari materi yang akan diberikan antara lain:
Ø  Dasar Hukum
Ø  Pentingnya penggunaan helm saat berkendara;
Ø  Desain standar helm;
Ø  Dampak yang dapat terjadi jika tidak menggunakan helm;

b.        Model Kegiatan
Teknik Komunikasi
Kegiatan penyuluhan dilakukan dengan menggunakan metode penyuluhan langsung, yaitu bertatap muka secara langsung dengan sasaran penyuluhan, yaitu para siswa SMK Muhammadiyah yang mengikuti kegiatan Hizbul Wathan.

Metode Pendekatan
Dengan melihat karakteristik siswa SMK yang cenderung kurang peduli terhadap peraturan, maka diperlukan kondisi yang lebih eksklusif, sehingga metode pendekatan yang akan digunakan untuk penyuluhan para siswa SMK lebih tepat jika menggunakan metode pendekatan kelompok. Oleh karena itu, penyampaian materi akan disampaikan dengan cara membagi sejumlah siswa yang hadir ke dalam beberapa kelompok.

Teknik Penyampaian Materi

Ø  Ceramah
Teknik ini digunakan untuk menyampaikan materi yang berkaitan dengan dasar hukum, tujuan, dan fungsi penggunaan helm yang berstandar nasional Indonesia bagi pengendara sepeda motor.

Ø  Demonstrasi
Teknik ini digunakan untuk menyampaikan materi yang berkaitan dengan desain standar helm SNI dan tata cara pemakaian helm yang benar.

Ø  Pemberian Penghargaan
Dilakukan dengan memberi hadiah kepada siswa yang sudah mengenakan helm dengan baik untuk memberikan rangsangan kepada siswa tersebut agar konsisten mengenakan helm saat berkendara dan juga memberikan contoh kepada siswa yang belum mengenakan helm bahwa menggunakan helm saat berkendara merupakan perilaku yang bermanfaat.

Ø  Pemutaran Film
Teknik ini digunakan untuk memberikan ilustrasi kepada para siswa terkait dengan risiko yang akan didapatkan apabila tidak mengenakan helm pada saat berkendara. Dalam hal ini, video kecelakaan pengendara sepeda motor yang tidak mengenakan helm dapat menjadi shock therapy bagi para siswa.

c.         Media Yang Digunakan
Untuk mendukung teknik penyampaian materi yang sudah direncanakan dengan baik diperlukan sarana yang baik pula. Dalam hal ini, media yang digunakan akan sangat berpengaruh terhadap penyerapan materi oleh para siswa. Adapun media yang dibutuhkan untuk kegiatan penyuluhan penggunaan helm ini antara lain:
Ø  Laptop
Ø  LCD Proyektor
Ø  Helm SNI

d.        Alat Evaluasi
Alat evaluasi merupakan instrumen yang digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari kampanye/penyuluhan yang dilakukan. Dengan alat evaluasi akan dapat diketahui seberapa besar pengaruh dari kegiatan penyuluhan terhadap tingkat kesadaran para siswa terhadap peraturan lalu lintas yang ada. Tingkat kesadaran tersebut diketahui dengan cara mengukur 4 (empat) indikator yang berkaitan dengan tingkat kesadaran seseorang terhadap peraturan (hukum), antara lain: pengetahuan, pemahaman, sikap, dan perilaku. Untuk mengukur empat indikator tersebut, instrumen yang digunakan antara lain:
Ø  Survei Pelanggaran, untuk mengetahui pola perilaku para siswa terhadap peraturan menggunakan helm pada saat mengendarai sepeda motor.
Ø  Kuesioner, untuk mengukur pengetahuan, pemahaman, dan sikap para siswa terhadap peraturan menggunakan helm saat berkendara.

e.         Skenario Kegiatan
Jam
Kegiatan
Keterangan
14:00 - 14:15
Apel pembukaan Hisbul Wathan
Apel pembukaan HW yang wajib dilakukan untuk mengawali kegiatan .
14:15 – 14:30
Pre-test dan perkenalan di dalam kelas
Sebagai pembuka, penyuluh  memperkenalkan diri kepada para siswa SMK Muhammadiyah Kramat sambil membagikan kuesioner pre-test
14:30 – 15:00
Pemberian materi
Memberikan materi tentang penggunaan helm SNI menggunakan slide powerpoint
15:00 – 15:15
Tanya Jawab
Memberikan kesempatan kepada siswa-siswi untuk bertanya perihal materi yang diberikan
15:15 – 15:30
Istirahat

15:30 – 15:45
Selingan games
Memberikan games tebak gambar berupa rambu lalu lintas yang biasa ditemui di jalan sebagai materi tambahan bagi para siswa
15:45 – 15:50
Post-test dan penutupan materi
Melakukan pembagian kuesioner Post-test kemudian kegiatan penyampaian materi ditutup dengan membaca doa
15:50 – 16:00
Apel Penutup
Apel Penutup untuk mengakhiri kegiatan HW


Demikian cara mendesain penyuluhan keselamatan untuk siswa sekolah menengah kejuruan. Tahapan-tahapan yang digunakan dalam desain ini merupakan tahapan yang bersifat umum sehingga dapat digunakan dalam kegiatan penyuluhan yang serupa dengan sasaran yang berbeda. Mendesain kegiatan penyuluhan bukanlah hal yang sulit dilakukan, namun yang paling penting adalah bagaimana melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan sehingga berjalan dengan lancar dan dengan efektivitas yang tinggi. Selain itu, kemampuan berkomunikasi dari si penyuluh (pemberi materi) juga menjadi hal yang harus diperhatikan.
Semoga bermanfaat.


Bersambung.