Minggu, 23 Oktober 2016

KAMPANYE DAN PENYULUHAN KESELAMATAN LALU LINTAS

Kampanye
Pada postingan minggu lalu, telah dijelaskan tentang kampanye keselamatan transportasi jalan beserta tindakan-tindakan nyata yang telah dilakukan instansi-instansi terkait yang memang memiliki kewajiban dalam hal tersebut. Kepolisian Republik Indonesia yang menjadi leading setor di pilar keempat, yaitu Perilaku Pengguna Jalan yang Berkeselamatan, memiliki tanggung jawab memperbaiki perilaku pengguna jalan melalui pendidikan keselamatan berlalu lintas, meningkatkan kualitas sistem uji surat izin mengemudi dan penegakan hukum di jalan serta mengembangkan sistem pendataan kecelakaan lalu lintas. Dalam pilar yang keempat ini, POLRI harus berkoordinasi dengan instansi-instansi pemerintahan lainnya seperti Kementerian Perhubungan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota.
Kampanye dalam rangka membentuk perilaku pengguna jalan yang berkeselamatan difokuskan pada lima faktor risiko utama plus yang terdiri dari: helm, sabuk keselamatan, pelanggaran batas kecepatan, mabuk, pengguna jalan rentan, dan penggunaan telepon seluler. Banyak sudah kegiatan-kegiatan yang dilakukan instansi-instansi terkait dengan mengajak serta masyarakat yang tergabung dalam kelompok-kelompok tertentu.
Susilo Bambang Yudhoyono, pada masa pemerintahan beliau (2014), mencanangkan Hari Gerakan Nasional Pelopor Keselamatan Berlalulintas. Acara tersebut melibatkan banyak sekali masyarakat. Di tahun yang sama, kegiatan bertajuk Aksi Keselamatan Lalu Lintas diselenggarakan di Kawasan Bundaran Hotel Indonesia.


Selain dengan melakukan kampanye, dilakukan pula pembentukan kader-kader keselamatan lalu lintas pada kalangan pelajar dan awak angkutan umum. Untuk kalangan pelajar, diselenggarakan acara bertajuk Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Jalan. sedangkan untuk kalangan awak angkutan umum, diselenggarakan Pemilihan Awak Angkutan Umum Teladan.


Penyuluhan
        Berbeda dengan kampanye, penyuluhan lebih bersifat eksklusif kepada kalangan masyarakat dengan karakteristik tertentu. Penyuluhan merupakan proses aktif yang memerlukan interaksi antara penyuluh dan yang disuluh agar terbangun proses perubahan perilaku yang merupakan perwujudan dari pengetahuan, sikap dan keterampilan seseorang yang dapat diamati oleh orang/pihak lain, baik secara langsung atau tidak langsung. Di dalam penyuluhan keselamatan jalan terkandung makna adanya proses-proses:
  1. Proses komunikasi persuasif oleh penyuluh
  2. Proses pemberdayaan sasaran penyuluhan
  3. Proses komunikasi timbal balik antara penyuluh dan sasaran penyuluhan
Dalam menanamkan perilaku berkeselamatan bagi pengguna jalan dengan melalui penyuluhan keselamatan jalan, ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan, antara lain:
  1. Tahap penumbuhan perhatian: mengetahui adanya gagasan/ide atau praktek baru untuk pertama kalinya
  2. Tahap penumbuhan minat: ingin mengetahui lebih banyak dan berusaha mencari informasi lebih lanjut.
  3. Tahap menilai: mampu membuat perbandingan.
  4. Tahap mencoba: mencoba gagasan baru atau praktek baru.
  5. Tahap menerapkan: meyakini dan menerapkan sepenuhnya secara berkelanjutan.
Untuk membuat program penyuluhan yang tepat sasaran tentunya harus direncanakan dengan memperhatikan berbagai aspek. Berikut adalah beberapa tahapan dalam penyusunan program penyuluhan keselamatan yang dapat dilakukan:
  1. Perumusan keadaan: penggambaran fakta berupa data dan informasi
  2. Penetapan tujuan: perumusan keadaan yang hendak dicapai. SMART, yaitu specific (khas); measurable (dapat diukur); actionary (dapat dikerjakan/dilakukan); realistic (realistis); dan time frame (memiliki batasan waktu untuk mencapai tujuan)
  1. Penetapan masalah: perumusan faktor-faktor yang dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuan
  2. Penetapan rencana kegiatan: merumuskan cara mencapai tujuan
·      Tingkat kemampuan sasaran penyuluhan
·      Ketersediaan teknologi/inovasi, sarana dan prasarana
·      Tingkat kemampuan penyuluh
·      Situasi lingkungan fisik, sosial dan budaya yang ada
·      Alokasi pembiayaan

Setelah program penyuluhan tersusun, yang harus ditentukan selanjutnya adalah materi yang akan disampaikan dalam penyuluhan. Materi penyuluhan yang baik, setidaknya mengandung prinsip 7C, yaitu:
Prinsip 7 C
  1. Credibility: pesan dapat diyakini kebenarannya
  2. Contex: berkaitan dengan masalah keselamatan di wilayahnya
  3. Content: isinya memiliki arti bagi penerima pesan
  4. Clarity: jelas susunan bahasa, gambar dan simbol
  5. Continuity and consistency: berkelanjutan dan konsisten dalam menyampaikan pesan
  6. Channels: saluran media komunikasi yang sesuai penerima
  7. Capability of audience: sesuai dengan kemampuan penerima pesan

Hal yang perlu diperhatikan berikutnya setelah materi adalah bagaimana cara menyampaikan materi tersebut. berikut adalah beberapa metode yang dapat dilakukan:

No
Metode
Kelebihan
Kekurangan
1
Ceramah
Penyampaian materi tanpa banyak partisipasi dalam bentuk pertanyaan atau diskusi
Kelas mudah dikuasai; mudah dilaksanakan; dapat diikuti peserta dalam jumlah besar
Bersifat verbal; peserta cenderung bosan; sangat tergantung pada kemampuan penceramah
2
Demonstrasi
Memperlihatkan secara nyata tentang cara dan/atau hasil terkait sesuatu hal
Pemahaman peserta mengenai materi lebih dalam
Memakan waktu lama; sumber daya yang dibutuhkan relatif besar
3
Kursus/Pelatihan
Proses belajar mengajar yang diselenggarakan secara sistematis dan dalam jangka waktu tertentu
Efektif untuk mengajarkan pengetahuan dan keterampilan secara mendalam dan sistematis; alumni dapat dipakai sebagai kader bagi kelompoknya
Relatif mahal serta memerlukan persiapan dan pelaksanaan yang cermat; kurangnya sarana dan alat bantu pengajaran sering mengganggu tercapainya tujuan; menjangkau relatif sedikit peserta
4
Pameran
Usaha memperlihatkan atau mempertunjukkan model, contoh, barang, peta, grafik, gambar, poster, benda hidup dan sebagainya secara sistematis pada suatu tempat tertentu
Jangkauan sasaran lebih luas; mempunyai efek publisitas
Memerlukan banyak persiapan dan biaya; harus berganti tema; tema tertentu; memerlukan penjaga yang benar-benar menguasai masalah
5
Pemberian Penghargaan
Kegiatan sebagai tanda ucapan terima kasih/penghargaan kepada individu/instansi atas jasa-jasa/prestasinya khususnya dalam kurun waktu tertentu.
Merangsang peserta untuk meningkatkan prestasi; mengefektifkan kegiatan; memberikan pengaruh yang luas dan melibatkan lembaga/badan lain
Membutuhkan biaya tambahan pelaksanaan; hanya melibatkan beberapa orang peserta
6
Pemutaran Film
Metode penyuluhan dengan menggunakan alat film yang bersifat visual dan massal, serta menggambarkan proses sesuatu kegiatan.
Lebih menarik; sekaligus sebagai hiburan; jangkauannya lebih luas
Tidak terdapat komunikasi dua arah; biaya tinggi
7
Penempelan Poster
Metode penyuluhan yang menggunakan gambar dan sedikit kata-kata yang dicetak pada sehelai kertas/bahan lain yang berukuran tidak kurang dari 45 cm x 60 cm, dan ditempelkan pada tempat-tempat yang sering dilalui orang atau yang sering digunakan sebagai tempat orang berkumpul
Jangkauan sasaran lebih luas
Pesan kurang lengkap; bila dibuat dari kertas akan mudah rusak, sedangkan bila dibuat dari bahan tahan lama biayanya mahal
8
Penyebaran brosur, leaflet, & majalah
Menggunakan brosur, folder, leaflet dan majalah yang dibagikan kepada masyarakat pada saat tertentu.
Materi lebih lengkap dan jelas serta lebih khusus pada materi tertentu; dapat melengkapi metode penyuluhan yang lain; dapat memberikan kesempatan pihak lain untuk berpartisipasi (khusus untuk majalah).
Bahasa harus menyesuaikan dengan bahasa komunikasi kelompok sasaran; kontinuitasnya tidak dapat terjamin terutama faktor judul, materi, biaya dan keterpaduan dengan metode lainnya

         Dari 8 metode yang telah dijelaskan di atas, dapat diketahui adanya kebutuhan akan media yang akan digunakan. Berikut alah beberapa klasifikasi media beserta kelebihan dan kekurangannya.

No
Bentuk
Kelebihan
Kekurangan
1
Media Tercetak
Foto, poster, leaflet, diagram,grafik, brosur, majalah, buku
Relatif tahan lama, dapat dibaca berulang-ulang, dapat digunakan sesuai kecepatan belajar masing-masing orang, mudah dibawa
Proses penyampaian informasi sampai pencetakan butuh waktu relatif lama, sukar menampilkan gerak, membutuhkan tingkat literasi yang memadai, cenderung membosankan bila padat dan panjang
2
Media Audio
Kaset CD, DVD, MP3, MP4 audio
Informasi dikemas sudah tetap, terpatri dan tetap sama jika direproduksi, produksi dan reproduksinya tergolong ekonomis dan mudah didistribusikan
Bila terlalu lama akan membosankan, perbaikan atau merevisi harus memproduksi master baru
3
Media Audio Visual
Film, iklan televisi, presentasi interaktif
Dapat memberikan gambaran yang lebih konkrit, baik dari unsur gambar maupun geraknya, lebih atraktif dan komunikatif
Biaya produksi relatif mahal, produksi memerlukan waktu
4
Obyek fisik/benda nyata
Benda sesungguhnya, model, maket, simulasi
Dapat menunjukkan lingkungan belajar yang amat mirip dengan lingkungan belajar yang sebenarnya, memberikan simulasi terhadap banyak indera, dapat digunakan sebagai liatihan kerja, latihan menggunakan alat bantu dan atau simulasi



Relatif mahal
5
Media Luar Ruangan
Papan reklame, spanduk, pameran, banner dan televisi layar lebar
lebih mudah dipahami, lebih menarik, sebagai informasi umum dan hiburan, bertatap muka, mengikut sertakan seluruh panca indera, penyajian dapat dikendalikan dan jangkauannya relatif besar
Biaya lebih tinggi dan proses pembuatannya lebih rumit
     
    Dengan pemilihan materi, metode, dan media yang tepat, program penyuluhan dapat berjalan dengan lancar dan menghasilkan kegiatan yang efektif. Efektivitas program penyuluhan dapat dilihat pada ada atau tidaknya perubahan pada tiga indikator, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengukuran ketiga indikator tersebut sebelum (pre test) dan sesudah (post test) dilakukan kegiatan penyuluhan keselamatan lalu lintas.

Sabtu, 15 Oktober 2016

URGENSI KAMPANYE KESELAMATAN JALAN

Definisi Kampanye
Menurut WWF Indonesia, kampanye adalah alat untuk menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran, untuk meningkatkan kepedulian dan perubahan  perilaku dari target audiens. Kampanye juga dapat dilihat sebagai alat advokasi kebijakan untuk menciptakan tekanan publik pada aktor-aktor kunci, misalnya peneliti, ilmuwan, media massa dan pembuat kebijakan.
Rajasundaram (1981) mendefinisikan kampanye sebagai koordinasi dari berbagai metode komunikasi yang fokus pada permasalahan tertentu sekaligus cara pemecahannya dalam kurun waktu tertentu. Rogers dan Storey (1987) mendefinisikan kampanye sebagai serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu. Sedangkan Leslie B. Snyder (2002), mendefinisikan kampanye sebagai aktivitas komunikasi yang terorganisasi, ditujukan kepada khalayak tertentu pada waktu dan periode yang ditetapkan untuk tujuan tertentu.
Berdasarkan definisi tentang kampanye tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa secara umum kampanye merupakan serangkaian kegiatan yang terorganisir menggunakan berbagai metode komunikasi kepada khalayak tertentu untuk menciptakan efek tertentu yang dilaksanakan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu.

Elemen-Elemen Komunikasi
Kampanye merupakan satu aktivitas komunikasi yang terdiri dari beberapa elemen yang membuat aktivitas tersebut berjalan sesuai dengan tujuannya, yaitu menyampaikan pesan. Pesan dari komunikator dianggap tersampaikan kepada komunikan apabila komunikan memberikan tanggapan kepada komunikator. Tanggapan tersebut adalah hasil dari proses penerjemahan komunikan (decoding), hasilnya bisa sesuai yang dimaksud komunikator, namun bisa juga tidak.



Perbedaan Kampanye dan Propaganda
            Dalam usaha mempengaruhi atau menciptakan efek tertentu pada khalayak, selain kampanye ada satu istilah yang juga sering digunakan, yaitu propaganda. Enclyclopedia International menyebutkan bahwa Propaganda adalah satu jenis komunikasi yang berusaha mempengaruhi pandangan dan reaksi, tanpa mengindahkan tentang nilai benar atau tidak benarnya pesan yang disampaikan. Arti dari propaganda dikemukakan sebagai konsep populer yang cenderung menumbuhkan satu kecurigaan dan rasa takut terhadap kekuatan dipropagandanis.
            Perbedaan dasar antara propaganda dan kampanye adalah waktu yang digunakan. Pada umumnya kegiatan propaganda bersifat kontinyu atau berkesinambungan. Sedangkan kampanye bersifat temporer dan terbatas pada waktu dan tema tertentu. Berikut ini adalah beberapa parameter yang membedakan antara kampanye dengan propaganda.

Parameter
Kampanye
Propaganda
Nara sumber dan tema
Dapat diidentifikasi
Tidak jelas, tersembunyi
Periode
Waktu yang terbatas
Tidak terikat waktu
Sifat gagasan
moderat dan terbuka
Tertutup, memaksakan
Tujuan kegiatan
Spesifik dan variatif
Umum, mengubah sistem dan nilai kepercayaan
Penerimaan
Sukarela dan persuasif
Dipaksakan, menekan, mengancam
Modus pelaksanaan
Sesuai kode etik
Tanpa aturan main yang jelas
Kepentingan
Kedua belah pihak
Sepihak
Penilaian publik
Konotasi positif
Konotasi negatif

Kampanye Sosial
            Salah satu jenis kampanye ini berorientasi yang bertujuan bersifat khusus dan berdimensi perubahan sosial (social change campaigns) adalah Ideological or Cause-Oriented Campaign. Salah satu jenis kampanye yang sering dilaksanakan adalah kampanye sosial. Kampanye ini sama sekali tidak bermuatan politik karena bersifat memberikan informasi kepada masyarakat luas untuk memperbaiki kondisi sosial dan memberikan sebuah pemecahan masalah. Dalam kegiatannya, kampanye sosial mempopulerkan masalah-masalah sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Dengan kampanye tersebut, diharapkan akan mengubah kebiasaan atau perilaku yang menyebabkan permasalahan sosial tersebut.

Permasalahan Keselamatan Jalan
            Saat ini, permasalahan sosial yang sedang menjadi isu di seluruh dunia, khususnya juga di Indonesia, adalah tingginya angka kecelakaan lalu lintas di jalan. tingginya angka kecelakaan merupakan salah satu indikator tingkat keselamatan yang rendah. Faktor kesalahan manusia dan perilaku yang tidak bertanggung jawab menjadi isu yang naik ke permukaan karena sebagian besar kecelakaan yang terjadi berawal dari pelanggaran peraturan lalu lintas. Tak hanya jumlah kejadian kecelakaan yang tinggi, namun juga tingkat kematian akibat kecelakaan termasuk tinggi.

Dasar Hukum Pelaksanaan Kampanye Keselamatan Jalan
            Keselamatan jalan bukanlah inisiatif, ide atau gagasan beberapa orang saja, namun hal tersebut merupakan salah satu aspek yang diperhatikan pemerintah dalam penyelenggaraan negara ini, khususnya di bidang transportasi. Salah satu produk hukum yang mengatur tentang lalu lintas adalah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 yang kemudian diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Undang-undang tersebut dibuat dengan mempertimbangkan bahwa lalu lintas dan angkutan jalan sebagai bagian dari sistem transportasi nasional harus dikembangkan potensi dan perannya untuk mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran berlalulintas dan angkutan jalan dalam rangka mendukung pembangunan  ekonomi dan pengembangan wilayah.
            Dalam pasal 203 ayat (1) disebutkan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas terjaminnya keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan. Untuk menjamin keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan, ditetapkan rencana umum nasional keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan. Salah satu dari rencana umum tersebut adalah program nasional kegiatan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan.
            Dijelaskan pula bahwa yang dimaksud dengan “program nasional keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan” antara lain:
1.        Polisi Mitra Kampus (Police Goes to Campus);
2.        Cara Berkendara dengan Selamat (Safety Riding);
3.        Forum Lalu Lintas (Traffic Board);
4.        Kampanye Keselamatan Lalu Lintas;
5.        Taman Lalu Lintas;
6.        Sekolah Mengemudi; dan
7.        Kemitraan Global Keselamatan Lalu Lintas (Global Road Safety Partnership).
Salah satu kegiatan dalam program nasional tersebut adalah kampanye keselamatan lalu lintas. Hal ini menunjukkan bahwa kampanye keselamatan lalu lintas adalah hal yang harus dilakukan. Kegiatan tersebut dipertegas di dalam Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2013 tentang Dekade Aksi Keselamatan Jalan. dalam instruksi tersebut salah satu aspek yang menjadi fokus adalah perilaku pengguna jalan yang berkeselamatan. Salah satu program yang dilaksanakan untuk mencapainya adalah kampanye keselamatan.

Kampanye Keselamatan Jalan dan Tujuannya
            Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa faktor kesalahan manusia dan perilaku pengguna jalan yang tidak bertanggung jawab menjadi virus yang sedang menjangkiti bangsa ini. Penyebab permasalahan ini adalah karena tingkat pengetahuan dan tingkat kesadaran yang rendah. Bisa saja seorang pengguna jalan melanggar aturan karena tidak mengetahuinya atau bisa jadi ia sudah mengetahui namun bersikap acuh, pura-pura tidak tahu, bahkan sampai kepada paradigma yang menganggap bahwa adanya peraturan dibuat untuk dilanggar. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya penanganan untuk menyembuhkan masyarakat dari virus tersebut. Untuk memecahkan masalah keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan ini, salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah melalui kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
            Dengan melakukan kampanye melalui berbagai media yang ada, tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat dapat ditingkatkan. Doktrin-doktrin keselamatan jalan harus diberikan untuk mengubah pola pikir masyarakat dalam berlalu lintas di jalan yang hanya mengutamakan kelancaran mobilitas tanpa memikirkan keselamatannya. Padahal, keselamatan merupakan salah satu aspek yang harus dipenuhi agar dapat sampai ke tujuan. Bila seseorang tidak selamat, maka ia tidak akan sampai ke tempat tujuan. Artinya, dapat dikatakan bahwa keselamatan adalah kebutuhan setiap manusia.

Kampanye Keselamatan Jalan Yang Efektif
Peningkatan kesadaran masyarakat dapat dicapai secara efektif melalui kampanye yang dikelola secara profesional. Profesional dapat diartikan bahwa kampanye tersebut dilakukan dengan tepat, jelas dan ada kesesuaian antara tujuan, sasaran, penggunaan media, isi materi/informasi beserta teknik penyampaiannya.
Kampanye yang efektif dapat menanamkan kesadaran dan mempengaruhi dalam jangka panjang perilaku pengguna jalan. Kampanye keselamatan dapat berbentuk publisitas di media masa, demonstrasi, pawai, seminar di dalam ruangan, dan lain-lain. Kampanye yang tepat dapat mengurangi perilaku yang membahayakan keselamatan di jalan.
Kampanye dapat mempengaruhi cara berpikir masyarakat sehingga masyarakat pun lebih mudah menerima gagasan baru, peraturan baru, standar yang baru, langkah baru dalam penegakan hukum, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan keselamatan di jalan. Kampanye keselamatan jalan merupakan bagian mutlak dari strategi keselamatan jalan bagi setiap wilayah.
Kampanye juga dikatakan efektif apabila pesan-pesan yang disampaikan kepada kelompok massa yang tepat. Agar kampanye dapat mengenai sasaran yang tepat salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meneliti data kecelakaan terlebih dahulu. Data kecelakaan di jalan harus dianalisis untuk dapat diidentifikasi sifat dan karakteristik permasalahan (penyebab kecelakaan) serta kelompok pengguna jalan (yang terlibat kecelakaan) yang akan menjadi sasaran kampanye. Oleh karena itu, bahan-bahan, media dan citra/gambaran yang dipakai haruslah sesuai dengan kondisi setempat serta kelompok sasaran. Selain itu, akan lebih baik apabila kampanye dikoordinasikan dan bersinergi dengan rekayasa teknik, pembuatan undang-undang, dan penegakan hukum.
Tujuan komunikasi dalam kampanye keselamatan adalah untuk menciptakan pengetahuan, pengertian, pemahaman, kesadaran, minat, dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, dalam melaksanakan kampanye, harus menggunakan teknik komunikasi efektif yang dapat mengubah opini, mengubah sikap, mengubah perilaku.
Untuk mengetahui efektivitas dari kampanye yang dilakukan, harus dievaluasi melalui sebuah survei. Survei dilakukan sebelum dan sesudah kampanye berlangsung untuk melihat tingkat keberhasilan suatu kampanye

Prinsip Dasar Kampanye Keselamatan Jalan
            Keberhasilan kampanye keselamatan jalan tidak terlepas dari berbagai aspek yang menjadi hal mendasar dalam pelaksanaan kampanye keselamatan jalan. berikut ini adalah beberapa prinsip yang menjadi dasar keberhasilan kampanye keselamatan jalan:
  1. Kampanye keselamatan jalan harus menjadi bagian terpadu dari perencanaan transportasi strategis
  2. Pesan kampanye dibuat berdasarkan suatu analisis pada situasi lalu lintas dan angkutan jalan.
  3. Peran media masa perlu diidentifikasi dalam mempengaruhi sikap dan perilaku pengguna jalan
  4. Kampanye menjadi lebih efektif bila didukung oleh adanya peraturan dan penegakan hukum
  5. Penyampaian pesan perlu dilandasi suatu penelitian, bukan sekedar    penampilan yang “bagus”.


Contoh Kampanye Keselamatan Jalan
            Kampanye keselamatan jalan saat ini sudah banyak dilakukan oleh berbagai instansi yang menjadi pemangku kepentingan di dalam Rencana Umum Nasional Keselamatan Jalan, antara lain: POLRI, Kementerian Perhubungan, PT Jasa Raharja dan badan usaha swasta yang turut andil dalam kampanye keselamatan melalui berbagai jenis media yang ada.
POLRI dengan slogan yang sering kita lihat di spanduk-spanduk dan media lainnya, mengajak masyarakat untuk menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas dan membudayakan keselamatan sebagai kebutuhan. POLRI juga bekerja sama dengan PT Jasa Raharja dalam menghimbau masyarakat.
 

Nvlrj.blogspot.com

Peloporlantas.wordpress.com
           
Kementerian Perhubungan dengan kreatif menciptakan tokoh kartun bernama ZETA, yaitu figur berbentuk zebra yang mengajarkan kepada anak-anak tentang istilah-istilah dan tata cara dalam berlalu lintas. Media yang digunakan adalah video, yaitu dengan membuat film kartun edukatif bagi anak-anak yang di dalamnya disampaikan pesan-pesan dan slogan-slogan keselamatan.

hendryjeeps.wordpress.com

Selain itu, sosok ZETA juga diwujudkan dalam bentuk nyata berupa kostum yang seukuran dengan manusia dewasa yang sering dimunculkan pada saat kegiatan-kegiatan kampanye di ruang publik.

indonesianbisa.blogspot.co.id



"Mari membiasakan yang benar, jangan membernarkan kebiasaan"

Selasa, 23 Februari 2016

MUSIM HUJAN DATANG, LUBANG PUN DATANG

   Indonesia sebagai negara beriklim tropis memiliki dua musim yang bergantian setiap tahun, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Saat ini, musim yang sedang berlangsung adalah musim penghujan. Dapat dilihat di beberapa daerah di Indonesia mulai terendam banjir dan menimbulkan permasalahan sosial seperti penyakit, kebersihan, dan kerugian materi. Selain beberapa permasalahan tersebut, ada satu permasalahan yang juga selalu datang kala musim hujan tiba, yaitu banyaknya lubang yang bermunculan di jalan, mulai dari yang berukuran kecil hingga yang berukuran sebesar kolam ikan, dengan kedalaman yang juga beragam, sampai-sampai dapat ditanami pohon pisang. Lubang-lubang tersebut akan banyak dijumpai di jalan yang diperkeras dengan campuran agregat dan aspal.
     Menurut Sony Sulaksono Wibowo, air merupakan musuh utama aspal karena air dapat melonggarkan ikatan antara agregat dan aspal. Kerusakan yang umum terjadi di jalan-jalan dalam kota adalah adanya air yang menggenangi permukaan jalan. Pada saat ikatan aspal dan agregat longgar karena air, kendaraan yang lewat akan memberi beban yang akan merusak ikatan tersebut dan permukaan jalan pada akhirnya. Tipikal kerusakan karena pengaruh air adalah lubang. Sekali lubang terbentuk maka air akan tertampung di dalamnya sehingga dalam hitungan minggu lubang yang semua kecil dapat membesar dengan cepat. Itulah sebabnya kerusakan jalan sering dikatakan bersifat eksponensial. Ketika ikatannya longgar pun, sebenarnya tidak masalah kalau tidak ada beban. Namun, ketika ikatannya longgar lalu ada kendaraan lewat, inilah yang mengawali kerusakan. Awalnya muncul lubang kecil. Air kemudian masuk lagi ke lubang tersebut. Akhirnya, lobang yang kecil tadi semakin membesar. Hubungan kerusakan jalan terhadap waktu terjadi secara eksponensial.[1]

     Di Indonesia, pemandangan jalan berlubang saat dan setelah musim penghujan merupakan hal yang biasa dijumpai. Berikut ini adalah beberapa gambar yang berhasil didapatkan beberapa minggu setelah curah hujan mulai tinggi di salah satu jalan perkotaan yang tidak dilewati oleh kendaraan berat.


     Tampak pada gambar yang ada bahwa kerusakan yang terjadi bukan hanya lubang, tetapi juga kerusakan tepi jalan, retak memanjang dan lubang memanjang. Kerusakan-kerusakan tersebut terjadi di jalan yang tidak dilalui oleh kendaraan-kendaraan besar, tetapi justru di jalan perkotaan yang hanya dilalui oleh kendaraan-kendaraan kecil dengan berat yang tidak terlalu membebani jalan. Dengan kata lain, jalan dapat mengalami kerusakan tanpa dilewati kendaraan dengan beban berat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kualitas jalan tersebut kurang baik. Kepadatan permukaan aspal yang kurang baik membuat air mudah masuk ke celah (pori-pori) permukaan jalan. Kepadatan perkerasan yang kurang baik membuat permukaan jalan cepat retak walaupun hanya dilewati kendaraan-kendaraan ringan. Air yang masuk melalui celah permukaan membuat kekuatan ikatan aspal menjadi lemah sehingga mempercepat pelepasan butiran pecahan batu dengan aspal yang pada akhirnya  membentuk lubang di permukaan jalan dalam kurun waktu yang cepat.
Sekian.
Semoga bermanfaat.


Rabu, 17 Februari 2016

Puzzle : Sarana Hiburan dan Edukasi Dalam Sosialisasi Keselamatan

Sosialisasi merupakan salah satu kegiatan untuk menyampaikan informasi kepada sekumpulan masyarakat. Salah satu informasi yang dapat disampaikan adalah informasi tentang keselamatan transportasi jalan yang sedang menjadi pembahasan hangat di seluruh dunia. Keselamatan transportasi jalan merupakan tanggung jawab semua orang, oleh karena itu, sasaran dari kegiatan sosialisasi keselamatan transportasi jalan adalah semua kalangan masyarakat. Materi yang disampaikan dalam sosialisasi keselamatan biasanya berupa peraturan-peraturan lalu lintas di jalan yang diperuntukkan bagi pengguna jalan. Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang peraturan yang ada dan mengamalkannya dalam kegiatan sehari-hari.

Dalam usaha meningkatkan pemahaman masyarakat tentang peraturan lalu lintas yang ada metodenya beragam, mulai dari memberikan ceramah, penayangan video, diskusi terbuka, dan permainan. Penerapan metode-metode tersebut harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat atau kelompok yang akan diberikan. Materi sosialisasi yang hanya berupa ceramah dan diskusi terkadang membuat perserta merasa jenuh sehingga timbul rasa malas untuk mendengarkan materi yang disampaikan oleh pemateri. Untuk mengaasi hal tersebut, diperlukan satu sesi dimana perserta dapat berperan aktif sehingga mereka akan antusias dengan kegiatan yang dilakukan.

Beberapa waktu yang lalu, penulis beserta tim melakukan sosialiasi keselamatan kepada siswa-siswi sekolah dasar di Kota Tegal, yaitu di SD Mangkukusuman 2, 4, dan 7. Sasarannya adalah siswa-siswi kelas 2 sampai dengan 6. Salah satu materi yang diberikan adalah rambu lalu lintas. Dalam kegiatan tersebut, tim sosialisasi menggunakan puzzle sebagai salah satu sarana untuk menghibur dan meningkatkan pemahaman peserta sosialisasi.

Puzzle merupakan permainan menyusun gambar yang sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia. Untuk anak-anak, permainan ini merupakan salah satu permainan yang edukatif dalam membentuk kepribadian dan melatih kemampuan psikomotorik, kognitif, dan sosial. Selain itu, bermain puzzle juga dapat melatih anak-anak untuk melatih kesabaran dan memecahkan masalah.



Dalam kegiatan sosialisasi untuk siswa SD, rambu lalu lintas menjadi materi dalam permainan ini. Tujuannya agar para siswa dapat mengingat dan memahami bentuk rupa dan makna rambu lalu lintas. Dalam permainan tersebut, para siswa dibentuk berkelompok, dan diberi satu paket potongan-potongan gambar untuk kemudian disusun menjadi satu gambar utuh dengan benar dan membentuk salah satu rambun lalu lintas. Selain menyusun gambar, siswa juga diharuskan untuk menyampaikan makna dari gambar rambu yang mereka susun sebelumnya. Untuk menambah semangat dan antusias para siswa, kelompok tercepat dan terpaham akan mendapatkan reward dari tim sosialisasi.

Dengan menjadikan rambu lalu lintas sebagai materi puzzle, para peserta diharapkan mampu mengenali dan mengingat bentuk rambu lalu lintas yang benar serta memahami makna dari rambu yang dimaksud. Setelah mereka memahami, para peserta diberikan sedikit ceramah yang berisi ajakan untuk menaati peraturan yang terkandung dalam rambu lalu lintas yang ada.

Demikian sedikit ulasan tentang penggunaan permainan puzzle sebagai sarana hiburan dan edukasi dalam kegiatan sosialisasi. Semoga bermanfaat.

Sabtu, 30 Januari 2016

URGENSI TEKNIK KOMUNIKASI MASSA DALAM KAMPANYE KESELAMATAN TRANSPORTASI JALAN

Potret Keselamatan Transportasi Jalan di Indonesia
Keselamatan dalam bidang transportasi jalan di Indonesia merupakan barang langka. Kecelakaan, sebagai salah satu indikator keselamatan, merupakan hal yang lumrah terjadi di negara ini. Penyebabnya beragam, mulai dari kondisi jalan beserta fasilitas dan perlengkapan yang belum standar, penegakkan hukum yang kurang tegas, sampai dengan perilaku pengguna jalan yang tidak tertib.
Supriyadi (katigaku.com) mengatakan, “Ketika saya pergi ke China, seorang rekan saya dari China yang pernah ke Indonesia berkata “Jika Anda bisa berkendara di Indonesia maka Anda bisa berkendara di mana pun di dunia ini”. Saya pikir, ada benarnya juga apa yang dia bilang memang karena berkendara di Indonesia perlu kesabaran yang ekstra untuk bisa sampai dengan selamat di tempat tujuan. Kita tidak hanya dituntut untuk memperhatikan jalan-jalan yang rusak tapi kita juga harus banyak mengelus dada untuk perilaku tidak aman dari sesama pengendara.”[1]
Peraturan yang sudah baik tidak akan berlaku apabila tidak ada keinginan dari para pengguna jalan untuk mematuhinya. Kampanye untuk tertib berlalu lintas, belakangan ini gencar dilakukan oleh KORLANTAS POLRI, sasarannya adalah para pengguna jalan. Namun, faktanya, pelanggaran lalu lintas di Indonesia masih tergolong tinggi.

Apa yang dimaksud teknik komunikasi massa?
Teknik dapat diartikan sebagai cara atau metode. Komunikasi merupakan proses pengoperasian lambang-lambang yang sengaja dikirimkan seseorang kepada orang lain untuk mendapatkan tanggapan, baik secara verbal maupun non-verbal. Massa adalah sekumpulan orang yang memiliki karakteristik dan waktu tertentu. Sehingga, Teknik Komunikasi Massa dapat diartikan sebagai metode menyampaikan lambang-lambang baik secara verbal maupun non-verbal kepada sekumpulan orang untuk mendapatkan tanggapan dari massa yang ada.

Bagaimana peran teknik komunikasi massa dalam kampanye keselamatan jalan?
Rogers dan Storey (1987) mendefinisikan kampanye sebagai “serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu”.[2] Secara umum, bentuk kampanye adalah dilakukan dengan slogan-slogan, pembicaraan, barang cetakan, penyiaran barang rekaman berbentu gambar dan suara, dan simbol-simbol.[3] Dalam bidang keselamatan transportasi jalan, teknik komunikasi massa digunakan dalam rangka merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kampanye keselamatan.
Dalam tahap perencanaan, yang harus dilakukan adalah mempelajarai karakteristik massa dan lingkungannya untuk mengetahui tingkat pemahaman target massa tentang keselamatan jalan. Hal tersebut berguna untuk menentukan materi kampanye dan media yang akan digunakan untuk memperbaiki tingkat pengetahuan massa saat itu. Selanjutnya adalah merencanakan metode untuk mengumpulkan dan menghibur massa, dan yang paling penting adalah menyusun urutan kegiatan.
Tahap pelaksanaan merupakan tahap eksekusi terhadap rencana yang telah dibuat. Dalam tahap inilah kemampuan seorang komunikator diuji, yaitu tentang bagaimana cara menarik perhatian massa, bagaimana cara menghadapi massa yang heterogen dan homogen, bagaimana cara menyampaikan materi kampanye, bagaimana cara memberikan hiburan kepada massa, dan bagaimana mengendalikan situasi di luar perencanaan.
Tahap evaluasi merupakan tahap untuk mengukur seberapa besar tingkat keberhasilan kegiatan kampanye yang dilakukan. Hal-hal yang diperhatikan adalah kesesuaian rencana dan pelaksanaan, baik dari segi waktu, penggunaan media, dan materi yang disampaikan. Target kampanye adalah meningkatkan pengetahuan massa, maka hal tersebut juga wajib diukur untuk mengetahui perbedaan sebelum dan sesudah dilaksanakan kegiatan kampanye.

Kesimpulan
Dalam melakukan kampanye keselamatan transportasi jalan, ilmu teknik komunikasi massa sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan kampanye dalam rangka memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang keselamatan transportasi jalan, khususnya tentang peraturan dan tata tertib dalam berlalu lintas di jalan, sehingga masyarakat dapat membiasakan diri dengan perilaku yang benar, bukan membenarkan perilaku yang menjadi kebiasaan (baca: melanggar peraturan lalu lintas).

Jumat, 29 Januari 2016

Desain Sticker Keselamatan Transportasi Jalan


LATAR BELAKANG



Pertumbuhan jumlah kendaraan yang sangat pesat membuat kondisi lalu lintas semakin ramai dipenuhi kendaraan. Sayangnya, pertumbuhan kendaraan yang ada tidak diimbangi dengan peningkatan kesadaran untuk tertib berlalu lintas para penggunanya. Hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Litbang Koran Sindo dengan 400 responden menyebutkan bahwa dari 10 jenis pelanggaran lalu lintas yang sering dilakukan, pelanggaran menerobos lampu merah menjadi urutan pertama pelanggaran yang paling sering dilakukan pengguna kendaraan bermotor dengan prosentase sebesar 42%.
Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas atau yang akrab di telinga orang awam sebagai lampu lalu lintas merupakan komponen penting untuk mengatur pergerakan kendaraan di persimpangan. Isyarat lampu yang terdapat pada lampu lalu lintas jelas sudah dipahami artinya oleh semua masyarakat di semua kalangan karena sudah diajarkan sejak sekolah dasar bahkan taman kanak-kanak. Namun pada kenyataanya masih banyak yang melanggar lampu lalu lintas, terutama pada saat lampu menyala merah. Mereka cenderung enggan untuk menunggu sampai lampu menyala hijau dengan alasan yang beragam. Mereka tidak berpikir tentang risiko yang akan terjadi bila menabrak atau tertabrak kendaraan dari kaki simpang lainnya. Selain kerusakan materi, kecelakaan tersebut juga akan menyebabkan luka-luka bahkan hingga kematian. Hal tersebut jelas akan merugikan diri sendiri dan pengguna jalan lain.
Untuk mendukung peningkatan keselamatan lalu lintas, diperlukan kesadaran dari para pengguna jalan. Tingkat pemahaman yang tinggi harus diimbangi dengan meningkatnya kesadaran para pengguna jalan terhadap keselamatan lalu lintas, khususnya untuk ketertiban terhadap lampu lalu lintas. Dengan tujuan tersebut, maka diperlukan penyuluhan kepada para pengguna jalan. Penyuluhan dapat dilakukan dengan media sticker yang ditempelkan pada tempat-tempat umum yang sesuai dengan tujuan penyuluhan sehingga tepat sasaran.

DESAIN DAN ISI


Sticker merupakan yang didesain untuk dibaca sekilas atau oleh orang yang melintas, dalam hal ini adalah pengguna jalan. Untuk itu sticker didesain dengan ukuran yang cukup lebar dengan ukuran panjang 16 cm dan lebar 8 cm. Ukuran tersebut dianggap sesuai untuk dapat dilihat dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Warna dasar sticker ini adalah kuning yang mengadopsi warna kuning pada rambu peringatan. Menurut mangkoko.com dalam artikelnya yang berjudul Psikologi Warna, warna kuning dapat memberikan stimulus pandangan mata. Oleh karena itu warna kuning dipilih agar sticker ini dapat menarik perhatian orang untuk melihat dan membaca sticker ini. Warna dasar kuning dikombinasikan dengan warna hitam untuk memberi kesan ketegasan drai dua warna yang kontras ini.
Inti sticker ini adalah pada kalimat yang disampaikan, “MERAH ITU ARTINYA BERHENTI BUKAN BERANI (MATI)”. Kata Merah dan Berhenti diberi warna merah untuk memberi penegasan pesan kalimat tersebut. Kalimat ini dipilih karena paradigma yang muncul di masyarakat adalah bahwa mereka mengimplementasikan arti warna merah sebagai warna yang melambangkan keberanian dengan berani menerobos lampu merah. Oleh karena itu, pesan pada sticker ini adalah untuk membantah paradigma tersebut dan memberikan efek “ngeri” dengan menambahkan kata “MATI” di akhir kalimatnya, sehingga orang yang akan melanggar akan berpikir tentang risiko dari tindakan yang akan dilakukannya.
Ilustrasi lampu menyala merah pada sisi kiri sticker dimaksudkan untuk memberikan penegasan terhadap kata “Merah” yang terdapat pada awal kalimat dalam sticker, sehingga pembaca tidak bingung tentang apa yang dimaksud merah dalam kalimat tersebut.

SASARAN STICKER
Sticker ini ditujukan kepada seluruh pengguna jalan, baik itu kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak bermotor. Hal tersebut dikarenakan pelanggaran menerobos lampu merah sering dijumpai tidak hanya dilakukan oleh pengguna kendaraan bermotor saja, tetapi juga para pengguna kendaraan tidak bermotor seperti sepeda dan becak.

METODE PEMBERIAN STICKER
Untuk menyampaikan isi pesan dan tujuan dari pembuatan sticker ini tercapai, sticker diberikan dalam 2 (dua) cara, yaitu dengan memberikan dan menempelkan langsung. Memberikan secara langsung dilakukan dengan membagikan sticker kepada para pengemudi di persimpangan pada saat lampu menyala merah. Sedangkan untuk cara yang kedua yaitu dengan menempelkan langsung pada lokasi di persimpangan yang mudah terlihat dan pada bagian kendaraan yang mudah terlihat.

TEMPAT PEMASANGAN
Dengan cara pemberian yang kedua, yaitu dengan menempelkan sticker secara langsung, sticker ditempelkan pada tiang lampu lalu lintas dengan maksud para pengguna jalan dapat membacanya ketika melewati persimpangan yang diatur dengan lampu lalu lintas.


Tempat pemasangan yang kedua adalah pada kabin kendaraan, khususnya pada bus sehingga pengemudi dan penumpangnya dapat melihat dan membaca isi sticker. Sedangkan untuk mobil penumpang, sticker dapat ditempel pada kaca belakang di salah satu sudutnya, sehingga pengguna jalan di belakangnya dapat melihat dan membaca pesan sticker tersebut.




Bagaimana pendapat Anda?

Kamis, 07 Januari 2016

Kerugian Perayaan Pergantian Tahun

Tahun 2015 telah berlalu dan tahun 2016 telah datang. Begitu banyak masyarakat Indonesia menantikan momen pergantian tahun 2015 ke tahun 2016 dengan cara yang beragam, namun kebanyakan dari mereka memilih untuk keluar rumah hanya untuk sekedar melihat kembang api atau hanya ikut-ikutan saja. Euforia yang dirasakan oleh sebagian masyarakat membuat mereka tidak memikirkan kerugian yang diakibatkan dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka menantikan pergantian tahun
Pusat perbelanjaan, tempat wisata dan pusat keramaian lainnya selalu menjadi destinasi orang-orang yang ingin menantikan pergantian tahun masehi. Hal tersebut membuat kondisi lalu lintas menjadi lebih ramai daripada biasanya dan sampai mengakibatkan kemacetan di banyak ruas jalan. Kemacetan sudah jelas merupakan hal yang sangat merugikan, baik dari segi waktu, biaya maupun tenaga. Mereka tidak sadar bahwa mereka hanya membuang-buang waktu dan biaya hanya untuk menantikan bertambahnya satu angka di kalender. Itu dalah hal yang sangat merugikan.


 Masalah lain terkait dengan lalu lintas adalah banyak sekali terjadi pelanggaran lalu lintas, yang paling menonjol adalah pada pengguna sepeda motor. Penggunaan helm dan jumlah pembonceng yang melebihi ketentuan merupakan yang banyak sekali dijumpai di berbagai kota di tanah air. Dengan ramainya kondisi lalu lintas, kecelakaan tidak mungkin tidak terjadi, walaupun itu hanya mengakibatkan kerusakan kendaraan, namun itu tetaplah kerugian.



Di puncak waktu yang dinantikan biasanya kembang api dinyalakan. Peredaran kembang api yang mudah dijumpai membuat siapa saja dapat membeli dan menyalakannya secara bebas. Tak jarang yang mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah hanya untuk menyaksikan dentuman dan kilauan cahaya yang hanya beberapa menit itu. Seharusnya, uang itu dapat digunakan untuk kebutuhan lain yang lebih bermanfaat. Dampak terburuk dari kembang api adalah kebakaran, sehingga sesuatu yang dianggap dapat memberikan kesenangan, justru berujung pada kesedihan.



Pagi hari, di hari pertama pada tahun yang baru berganti, sampah-sampah tidak bertuan bertebaran di berbagai sudut pusat keramaian. Sampah yang tak bertuan tersebut ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya pada malam dimana mereka menantikan pergantian tahun. Mereka meninggalkan sampah dengan sangat tidak bertanggung jawab, sama sekali tidak ada kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan.
  



Pembahasan di atas merupakan hanya sebagaian kecil saja dari kerugian yang diakibatkan dari adanya kegiatan berkumpul-kumpul untuk menantikan pergantian tahun. Selanjutnya, semoga masyarakat Indonesia dapat lebih cerdas dalam menyikapi kegiatan-kegiatan yang menurut penulis lebih besar kerugiannya dibandingkan dengan manfaatnya.